Sedih, kecewa, dan khawatir
merupakan perasaan yang senantiasa hinggap dalam jiwa manusia. Tak jarang, rasa
itu bukan sekadar hinggap, akan tetapi ia bertengger, membuat sarang, dan
menetap di dalamnya. Ranting kering, rumput, ilalang, dan serpihan luka yang
dibawa oleh rasa-rasa itu memenuhi setiap ruang jiwa, menutupinya dari terpaan
cahaya. Akibatnya, jiwa kehilangan ruang kebebasan, berganti dengan
bayang-bayang dan kegelapan. Suasana lembap dan absennya kehangatan pun menjadi
sesuatu yang tak terelakkan.
Hari ini, mungkin Anda merasakan
hal yang sama. Hari-hari yang dilewati tak lagi tampak indah, bahagia entah
hilang ke mana, dan gambaran baik tentang hari esok tak kunjung tiba di pelupuk
mata. Semua terasa dingin dan gelap.
Ketahuilah, Anda tidak sendiri.
Banyak orang di luar sana merasakan hal serupa dengan kadar yang berbeda-beda.
Ada yang memilih menyerah dan membelenggu jiwanya hingga binasa. Namun, ada
pula yang berjuang membebaskannya, mengusir setiap pengganggu, serta
membersihkan jiwa dari sampah-sampah yang menumpuk. Anda selalu punya kuasa
untuk memilih di antara keduanya.
Di sisi lain, Tuhan yang
menciptakan manusia sangat memahami kondisi jiwa ciptaan-Nya. Ia telah
menitipkan pesan-pesan cinta melalui ayat wahyu dan ayat semesta. Karena Ia
tahu tidak semua hamba langsung mampu memahami pesan wahyu, Ia turut berbicara
melalui keindahan alam semesta.
Tuhan menciptakan matahari yang
setia datang membawa sinarnya di pagi hari. Sinar itu menghadirkan kehangatan
serta mengusir kegelapan yang mengurung ruang jiwa. Ia datangkan cahaya itu
setiap hari di awal pagi, agar manusia mampu memulai langkahnya dengan harapan,
semangat, dan kebahagiaan.
Sayangnya, sering kali kita
terlalu fokus pada penderitaan diri, hingga membuat kita abai terhadap sekitar.
Kita menjadi luput menyadari pesan-pesan kasih sayang dari orang lain maupun
dari Sang Pencipta Alam, sampai akhirnya ayat wahyu dan ayat semesta harus
bersatu untuk menegur kita. Allah ﷻ berfirman:
وَٱلۡفَجۡرِ
Demi fajar, [Al Fajr: 1]
وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا
Demi matahari dan cahayanya di pagi
hari,
[Ash-Shams: 1]
وَٱلضُّحَىٰ
Demi waktu matahari sepenggalahan
naik,
[Ad Duha: 1]
Sepenting itukah jiwa ini? Seberharga itukah diri kita
hingga Tuhan Sang Pencipta harus bersumpah berkali-kali atas nama waktu dan
cahaya? Jawabannya bukan semata karena manusia sangat berharga, tetapi karena
Ia memang dipenuhi dengan cinta dan perhatian kepada hamba-Nya; bahkan ketika
kita sebagai hamba berulang kali tak peka dan lalai.
Esok hari, saat mentari
tiba, cobalah luangkan waktu sejenak. Bukalah jendela kamar Anda, melangkahlah
ke luar, dan biarkan sinar mentari pagi menyentuh kulit Anda. Hirup udaranya
dalam-dalam, dan izinkan kehangatan pelukan semesta itu menyapu bersih
sisa-sisa kegelapan di ruang jiwa Anda. Mari bangkit, dan jemput kembali terang
Anda. Jadikan setiap hangatnya sebagai pengingat bahwa Tuhan selalu punya cara
untuk memeluk dan menyembuhkan jiwa kita yang rapuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar