MENTARI PAGI UNTUK JIWA YANG SEPI - M Abduh Al Baihaqi

Tadabbur | Parenting | Sirah | Psikologi

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 24 Juli 2026

MENTARI PAGI UNTUK JIWA YANG SEPI


Sedih, kecewa, dan khawatir merupakan perasaan yang senantiasa hinggap dalam jiwa manusia. Tak jarang, rasa itu bukan sekadar hinggap, akan tetapi ia bertengger, membuat sarang, dan menetap di dalamnya. Ranting kering, rumput, ilalang, dan serpihan luka yang dibawa oleh rasa-rasa itu memenuhi setiap ruang jiwa, menutupinya dari terpaan cahaya. Akibatnya, jiwa kehilangan ruang kebebasan, berganti dengan bayang-bayang dan kegelapan. Suasana lembap dan absennya kehangatan pun menjadi sesuatu yang tak terelakkan.

Hari ini, mungkin Anda merasakan hal yang sama. Hari-hari yang dilewati tak lagi tampak indah, bahagia entah hilang ke mana, dan gambaran baik tentang hari esok tak kunjung tiba di pelupuk mata. Semua terasa dingin dan gelap.

Ketahuilah, Anda tidak sendiri. Banyak orang di luar sana merasakan hal serupa dengan kadar yang berbeda-beda. Ada yang memilih menyerah dan membelenggu jiwanya hingga binasa. Namun, ada pula yang berjuang membebaskannya, mengusir setiap pengganggu, serta membersihkan jiwa dari sampah-sampah yang menumpuk. Anda selalu punya kuasa untuk memilih di antara keduanya.

Di sisi lain, Tuhan yang menciptakan manusia sangat memahami kondisi jiwa ciptaan-Nya. Ia telah menitipkan pesan-pesan cinta melalui ayat wahyu dan ayat semesta. Karena Ia tahu tidak semua hamba langsung mampu memahami pesan wahyu, Ia turut berbicara melalui keindahan alam semesta.

Tuhan menciptakan matahari yang setia datang membawa sinarnya di pagi hari. Sinar itu menghadirkan kehangatan serta mengusir kegelapan yang mengurung ruang jiwa. Ia datangkan cahaya itu setiap hari di awal pagi, agar manusia mampu memulai langkahnya dengan harapan, semangat, dan kebahagiaan.

Sayangnya, sering kali kita terlalu fokus pada penderitaan diri, hingga membuat kita abai terhadap sekitar. Kita menjadi luput menyadari pesan-pesan kasih sayang dari orang lain maupun dari Sang Pencipta Alam, sampai akhirnya ayat wahyu dan ayat semesta harus bersatu untuk menegur kita. Allah berfirman:

وَٱلۡفَجۡرِ

Demi fajar, [Al Fajr: 1]

وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, [Ash-Shams: 1]

وَٱلضُّحَىٰ

Demi waktu matahari sepenggalahan naik, [Ad Duha: 1]

Sepenting itukah jiwa ini? Seberharga itukah diri kita hingga Tuhan Sang Pencipta harus bersumpah berkali-kali atas nama waktu dan cahaya? Jawabannya bukan semata karena manusia sangat berharga, tetapi karena Ia memang dipenuhi dengan cinta dan perhatian kepada hamba-Nya; bahkan ketika kita sebagai hamba berulang kali tak peka dan lalai.

Esok hari, saat mentari tiba, cobalah luangkan waktu sejenak. Bukalah jendela kamar Anda, melangkahlah ke luar, dan biarkan sinar mentari pagi menyentuh kulit Anda. Hirup udaranya dalam-dalam, dan izinkan kehangatan pelukan semesta itu menyapu bersih sisa-sisa kegelapan di ruang jiwa Anda. Mari bangkit, dan jemput kembali terang Anda. Jadikan setiap hangatnya sebagai pengingat bahwa Tuhan selalu punya cara untuk memeluk dan menyembuhkan jiwa kita yang rapuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar